Minggu, 31 Desember 2017

Inilah Mie Che

Mie Che [Photo by Stevenly Takapaha]
Kalau ada yang bertanya, apa yang menjadi ciri khas dan favorit kuliner di pulau Sangihe? jawabannya tentu saja sagu! Tetapi lebih khusus untuk ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah KOTA TAHUNA, Kuliner yang paling favorit pastilah Mie Che.
Rasanya kurang lengkap jikalau ke KOTA TAHUNA dan belum menikmati kuliner khas ini. Ingat Tahuna, ingat Mie Che. Sesuai dengan namanya kuliner ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang keturunan Tiongkok yang berjulukan Che. Sepeninggal Ko'Che perjuangan warung makan ini diteruskan oleh anak-anak dan saudara materi mereka yang mengetahui resep kuliner ini . 
Lokasi warung makan Mie Che  berada di sentra KOTA TAHUNA komplek Bank Danamon/Omega Photo, juga di Kompleks bawah RSUD Liun Kendage Tahuna, Tanjung Tahuna, Pelabuhan Tua, Komplek Kantor Pengadilan, Komplek Kantor Telkom, Komplek Pasar Towo'e dan Tona, Tapuang, dan diluar kota adalah di Komplek pasar Tamako, Kompleks Pasar Ulu Sitaro, komplek pelabuhan MANADO.

Catatan : kuliner ini tidak disarankan bagi kaum adventis, muslim atau yang mempunyai pantangan kesehatan alasannya mengandung daging babi/celeng

Sumber http://wisatasangihe.blogspot.com

Inilah Festival Sangihe

Jadwal Festival Sangihe 2014
 
Hari I Sabtu Tanggal 6 September 2014 :
CEREMONIAL
Pukul 08:45-09.00  
Penyambutan Secara Adat
        
Pukul 09:00-10.00
:
Demo Perahu Hias, Yacht, Paralayang

Pukul 10:00-10.05
:
Ucapan Selamat Datang Oleh Ren Tobing (MC)

Pukul 10:05-10.10
:
Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (dipandu oleh MC)

Pukul 10:10-10.15
:
Berdoa bersama oleh Pendeta & Pemuka Agama

Pukul 10:15-10.20
:
Laporan Ketua Panitia Festival Sangihe 2014

Pukul 10:20-10.35
:
Pengantar kata oleh BUPATI Kepulauan Sangihe

Pukul 10:35-10.55
:
Sambutan oleh Bapak Gubernur Sulawesi Utara

Pukul 10:55-11.30
:
Sambutan oleh Ibu Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif RI

Pukul 11:30-13.00
:
ISHOMA

Pukul 13:00-17.00
:
Diving Underwater Volcano (Mahengetang)

Pukul 14:00-17.00
:
Lomba Mancing Hari I (Lokasi Teluk Tahuna)

Pukul 19:30-Selesai
:
Pentas Seni Budaya


Hari II Minggu Tanggal 7 September 2014

Pukul 12:00-16.00  
Diving Sport
Pukul 19:00-23.00
:
Tarian Empat Wayer

Hari III Senin Tanggal 8 September 2014
Pukul 08:00-12.00  
Pukul 10:00-12.00
:
Lomba Mancing Hari II (Lokasi Teluk Tahuna)
Pukul 14:00-16.00
:
Diving Sport
Pukul 19:30-Selesai
:
Masamper

Hari IV Selasa Tanggal 9 September 2014
Pukul 10:00-12.00  
Pameran Foto di Manganitu
Pukul 12:00-13.00
:
Makan Siang
Pukul 13:00-14.00
:
Explore Manganitu (Menggunakan Bentor)
Pukul 13:00-15.00
:
Seminar Dialogis
Pukul 15:30-16.00
:
Coffee Break
Pukul 14:00-16.00
:
Lomba Mancing Hari III (Lokasi Teluk Tahuna)
Pukul 18:30-Selesai
:

Hari V Rabu Tanggal 10 Sepetember 2014
Pukul 09:00-10.00  
Demo Masak (William Wongso/Bondan Winarno
Pukul 10:00-12.00
:
Pemecahan Rekor MURI
Pukul 12:00-13.00
:
Makan Bersama
Pukul 19:00-Selesai
:

Hari VI Kamis Tanggal 11 September 2014
Clossing Ceremony
Pukul 09:00-10.00  
Road Show Armada
Pukul 18:00-19.00
:
Pengumuman Lomba
Pukul 19:00-20.00
:
Farewell Party (Diselingi oleh Musik Bambu)
Pukul 19:00-09.10
:
Laporan dari Ketua Panitia
Pukul 19:10-19.30
:
Penyerahan Hadiah lomba
Pukul 19:30-19.40
:
Penutupan Oleh Bupati Kepulauan Sangihe
Pukul 19:30-Selesai
:
Penampilan Group Band armada

Hari VII Jumat Tanggal 12 Sepetember 2014
Pukul 08:45-09:00  
Persiapan melepas Tamu Yacht
Pukul 10:00-12:00

Panitia Berkumpul

Sumber http://wisatasangihe.blogspot.com

Sabtu, 30 Desember 2017

Inilah Masamper


Kata Masamper berasal dari kata zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti paduan bunyi masyarakat. Ada juga yang menyebutnya berasal dari kata zang vrij yang berarti menyanyi bebas. Tradisi ini yakni bab dari budaya masyarakat etnis Sangihe-Talaud. Keberadaannya tidak lepas dari proses penginjilan yang dilakukan oleh para Zending (misionaris Katolik dari Eropa) dalam memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang dipakai dalam ibadah jemaat yang disesuaikan dari tradisi usang masyarakat Nusa Utara yakni metunjuke (bernyanyi dalam kelompok di mana beberapa orang memimpin lagu sambil berkeliling dan menunjuk-nunjuk seluruh yang hadiri dengan mengikuti irama lagu) atau mebawelase (menyanyi dalam kelompok sambil “berbalas pantun” dengan nyanyian).
Dalam tradisi usang sebelum injil masuk di Sangihe-Talaud, Metunjuke dikenal dengan tiga jenis yaitu: sasambo, kakalumpang dan kakumbaede -- nadanya tidak baku (dengan nada slendro?) alasannya yakni masyarakat Nusa Utara pra Zending belum mengenal tangga nada atau solmisasi. Kegiatan ini dilakukan dikala melaksanakan pelayaran panjang sambil berdayung di mana orang-orang para pedayung bernyanyi hingga tiba di kawasan tujuan. 


Pada sekitar periode ke-18 para Zending tiba untuk memberitakan injil dan memperkenalkan lagu-lagu gerejawi yang dipakai dalam ibadah-ibadah bersama. Ketika menyanyi bersama dalam ibadah ini dilakukan, tidak ada istilah bahasa lokal yang bisa mengistilahkannya. Karena itu, para Zending menawarkan istilahnya dengan kata zangvereninging atau juga zang vrij. Karena penyebutan kata abnormal itu mengalami hambatan untuk diucapkan secara benar, maka masyarakat Nusa Utara melafalkannya mengikuti dialek setempat dengan menyebutnya masampere.
Jika akan atau sedang melaksanakan acara bernyanyi bersama (lagu-lagu gerejawi atau rohani), masyarakat menyebutnya dengan masampere. Dalam perkembangan selanjutnya istilah masampere menyesuaikan diri dengan bahasa Indonesia atau bahasa Manado menjadi masamper. Kemudian juga semenjak tahun 1990-an muncul istilah gres yakni pato-pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper Menondong Pato (melayarkan perahu atau bahtera) yang dibawakan oleh Group Masamper pimpinan Max Galatang dan merupakan album rekaman masamper pertama. Lagu-lagu dari pato-pato berirama besar hati sehingga dikala orang mendengarnya akan terangsang untuk bangun dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.
Tradisi Masamper pada pada dasarnya merupakan ungkapan hati nurani selain mempunyai nilai religius dan nilai moral. Selain itu, masamper berisi ajakan, anutan moral dan anutan tata cara pergaulan dalam hidup bermasyarakat yang tersirat dalam lirik lagu yang bernuansi syair sastrawi. Bertolak dari nilai-nilai tersebut, maka dalam tiga dekade ini masamper telah diperlombakan, baik oleh kelompok organisasi sosial kemasyarakat maupun organisasi gereja dan kelembagaan lainnya.


Sejarah masamper tidak lepasa dari upaya Zending, dalam hal memperkenalkan lagu-lagu yang dipakai dalam ibadah jemaat. Namun, sebelum injil masuk ke kepulauan sangihe talaud, masamper ini sudah ada dan dikenala dengan nama tunjuke. Tunjuke terdiri dari tiga macam yaitu: sasambo, mekarumpang dan kakumbaede. Menyanyi (bahas sangir : megantare) secara bersama dalam bentuk berkelompok merupakan kegemaran orang sangihe. Misalnya dikala melaksanakan pelayaran panjang sambil berdayung, orang-orang sangihe pun bernyanyi hingga sampai tiba di kawasan tujuan.
Pada abad ke-15 yaitu ± tahun 1565 para Zending tiba untuk memberitakan injil dan didalamnya pula memperkenalkan nyanyian-nyanyian rohani yang biasa dipakai dalam ibadah. Pada waktu itu orang-orang sangihe memang sudah gemar menyanyi, walaupun belum mengenal solmisasi.
Bernyanyi secara kelompok ini, oleh para zending disebut zangvereniging (bahasa belanda), yang berarti kelompok menanyi. Oleh alasannya yakni sebutan ini yakni bahasa abnormal maka, oleh orang-orang sangihe terlafalkan menurut dialek bahasa sangihe samper. Bila kegemaran bernyanyi bersama ini dilakukan, maka oleh orang-orang sangihe disebut masamper dan dalam perkembangan selanjutnya masamper juga disebut pato pato. Sebutan ini terkait dengan sebuah judul lagu masamper. Pato dalam bahasa sangir berarrti perahu atau bahtera. Lagu pato-pato ini dikala dinyanyikan bisa menciptakan orang menyanyi atau orang yang mendengarkan terangsang untuk bangun dan menggerakan tubuh sambil bernyanyi mengikuti irama lagu.

Nilai-nilai yang terkandung dalam masamper
Masamper sarat dengan ungkapan hati nurani selain mempunyai nilai religius dan nilai moral, masamper mengjak dan mengajari tata cara pergaulan hidup masyarakat sangihe dan pengajaran itu dirangkaikan dalam syair lagu yang lalu dinyatakan nyaian baik dalam program sukaxita maupun dukacita
Masamper meiliki nilai-nilai yang tertanam dalam kehidupan masyarakat maupun dalam kehidupan setiap eksklusif pelaku atau peminat kesenian masamper. Nilai-nilai itu adalh:
• Nilai kebenaran
Dikatkan nilai kebenaran alasannya yakni masamper sanggup diterima secara logika sehat insan sehingga keasliannya tidak tergoyakan
• Nilai keindahan
Nilai keindahan itu bersumber pada perasaan manusia. Budaya masamper merupakan mulut dari jiwa masyarakat yang melukiskan ihwal perenungan, pengalaman ihwal keindahan serta diungkapkan pula kesadaran akan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat yang penuh kekeluargaan. Semua itu diungkapkan lewat nyanyian bersama dengan alunan vokal dan gaya bahasa indah serta diperindah lagi dengan ciri khasnya berbalas akhir sehingga asik dipandang, didengar, mapundirasakn
• Nilai moral
Nilai ini juga disebut kebaikan. Dalam hal ini, ketepatan dalam mebalasa lagu merupakan unsur yang paling utama, yaitu setiap nyanyian yang dinyanyikan tidak dinyanyikan sembarangan, melainkan setiap tema lagu dan makna lagu yang dinyanyikan lebih dahulu menjadi patokan untuk nyanyian berikutnya. Oleh alasannya yakni itu, dalam masamper sangat dibutuhkan kemampuan mengiterpretasikan lagu yang dinyanyikan, sekaligus menyiapkan lagu biar jadinya sempurna sesuai tema dan makna lagu.
• Nilai religius
Yang dimaksudkan di sini yakni nilai kerohanian. Hal ini dilakukan oleh insan kepada Yang Mahakuasa sehingga, semua mhluk yang bernafas menyembahnya. selain mempunyai nlai kesenian masmper juga mengandung unsur-unsur dan makna tertentu. Unsur-unsur yang dimaksud itu yakni musik atau vokal sebagai alat pengngkapan dan unsur gerak sebagai penunjang dalam pengungkapan pesan atau makna lagu ang dinyanyikan. Sementara itu unsur mebawalase dan unsur ketepatan dalam membalas lagu sebagai suatu proses dialog dan merupakan ciri khas masamper. Hal-hal inilah juga memilih kelanjutan dari masmper

Dalam perlombaan, jenis-jenis lagu dibagi dalam beberapa kategori seperti:
1. Pertemuan.
2. Pujian kepada Yang Mahakuasa
3. Perjuangan/peperangan rohani
4. Perjuangan/peperangan badani
5. Percintaan rohani
6. Percintaan badani
7. Cinta-kasih orangtua
8. Sastra (antara lain pelayaran, lingkungan hidup, dan pengajaran/moral)
9. Perpisahan
10. Dll.

Sumber http://wisatasangihe.blogspot.com

Inilah Proses Pembuatan Sagu

Festival Sangihe Selasa 9  Sepetember 2014.

Hari ini para wisatawan berkunjung ke Kampung Hiung kecamatan Manganitu untuk diperkenalkan proses pembuatan sagu.





Sagu yaitu tepung atau olahannya yang diperoleh dari pemrosesan teras batang rumbia atau "pohon sagu" (Metroxylon sp). Tepung sagu mempunyai karakteristik fisik yang ibarat dengan tepung tapioka. Dalam proses pembuatan tepung sagu, umumnya petani melaksanakan dengan cara yang sama. Sagu ditebang dan dikupas kulitnya dan dipotong-potong sepanjang 1-2 m, dibawah ke pinggir kuala (sungai) untuk proses pemarutan. Batang sagu yang akan diolah menjadi tepung dihancurkan dulu dengan cara pangkur memakai mesin ibarat mesin parut kelapa.
Hasil pangkur ini berupa serbuk-serbuk kayu halus. Serbuk kayu tersebut diletakkan di pelepah sagu lalu diberi air sambil serbuk sagu diremas-remas memakai tangan. Di bab bawah pelepah terletak saringan dari kain untuk menampung serat kayu yang akan dikembalikan ke pelepah sagu untuk diberi air dan diremas-remas kembali. Proses ini dilakukan berulang-ulang untuk mendapat pati sagu. Tepung sagu tersebut dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam keranjang tradisional diberi lapisan daun, yang lebih dikenal dengan nama bika
Propses pembuatan Sagu Porno Campur Kelapa

Propses pembuatan Sagu Porno Campur Kelapa (Lao Wango)

Sumber http://wisatasangihe.blogspot.com

Jumat, 29 Desember 2017

Inilah Victor Hutabarat Akui Kualitas Musik Bambu Sangihe




Tahuna, KOMENTAR

Penyanyi kondang Viktor Hutabarat tak dapat menyembunyikan kekaguman terhadap potensi Musik Bambu Sangihe dikala dia menonton pribadi pagelaran music bamboo Festival Sangihe 2014 baru-baru ini. Kekaguman Hurtabarat yang sengaja tiba ke Sangihe bersama sang istri untuk menyaksikan Festival lebih bertambah lagi ketika dia didaulat penonton untuk membawakan beberapa buah lagu yang pernah hits dengan iringan Musik Bambu, bahkan dirinya pribadi membaur dengan para peniup musik ketika sedang membawakan lagu-lagu serta beberapa lagu Barat.
Benar-benar ahli Musik Bambu Sangihe, gres kali ini aku menyanyi diiringi Musik Bambu dengan aneka macam nada dasar. “ujar Hutabarat yang membawakan sekitar 10 lagu, baik pop maupun lagu tempat dan lagu Rohani.
Dalam pergelaran Musik Bambu saat itu, Personil Tri Libels, Edwin Manansang juga turut membawakan beberapa buah lagu yang diiringi Musik Bambu,termasuk tamu lainnya Mayjen Tentara Nasional Indonesia Daniel Ambat serta Asisten I Pemkab Sitaro (ric)

Sumber http://wisatasangihe.blogspot.com

Inilah Musik Oli

Musik Oli merupakan musik tradisional Sangihe dan dikala ini masih dimainkan oleh masyarakat di Desa Manumpitaeng Kecamatan Manganitu. Mus...